Aku bangga dengan salah satu kelebihanku. Yaitu mudah bergaul, supel dan pandai bicara. Tak heran banyak kaum adam yang dengan mudah dekat dengan aku. Semua hal dapat aku perbincangkan dengan siapapun. Dari yang aneh, tak penting, tabu bahkan hal pribadi sekalipun. Banyak teman yang heran mengapa aku bisa sebegitu dekat dan sebegitu mudahnya bergaul dengan mereka-mereka yang dianggap ‘anak-anak terkenal’. Kunci utama bukan karena ingin ikut terkenal dan lain sebagainya. Tapi karena rasa persahabatan. Ya, aku suka bersahabat. Sahabatku banyak dan ada di mana-mana. Sejak kecil aku sudah diperkenalkan untuk ikut serta dalam kegiatan social yang mengharuskanku untuk berkomunikasi dengan siapapun. Seperti kata pepatah, Tak Kenal Maka Tak Sayang.
Benar apa kata Pak Berto, guru Kewirausahaanku, “Memiliki musuh 1 sudah terlalu banyak, namun memiliki 1000 sahabat belumlah cukup atau terlalu sedikit”.
Sahabat tak hanya di sekolah, di rumah, di kost. Sahabat ada di mana-mana. Kunci utama adalah komunikasi dan relasi.
Sejak kecil anak harus dibiasakan berada dalam lingkup masyarakat. Biarkan dia hidup bersama orang yang belum ia kenal. Dengan begitu, kelak besar nanti dia akan mudah beradaptasi pada sesuatu yang belum ia kenal. Biarkan dia digendong tetangga terdekat, biarkan dia bermain dengan anak seusianya. Harus dibatasi memang dan harus diberi pengawasan. Dampaknya akan terlihat saat besar nanti. Bukan pede, seperti aku. Dari kecil aku terbiasa dibiarkan berada di alam luar (bukan jalanan), dalam artian masyarakat. Dengan keadaan tersebut aku bisa mudah berkomunikasi dengan orang-orang yang belum aku kenal. Seperti bertanya namanya siapa, tinggal di mana dll. Mencium tangan juga termasuk salah satu komunikasi awal yang baik. Karena kebiasaanku itu, semenjak aku SMK aku terbiasa apa-apa sendiri. Pulang pergi naik bus sendiri. Tak tahu jalan berani bertanya. Thanks to Mom and Dad. Karena mereka aku bisa tumbuh dan berkembang tanpa harus ketergantungan dengan mereka. Toh aku masih punya sahabat yang mau dan bisa membantuku.
Kelebihanku tak selalu berdampak positif. Aku sadari kelebihanku juga berdampak negative. Untuk mereka yang sudah mengenal aku, pasti akan mengatakan aku “bawel dan cerewet”. Hahahaha thanks friend! Memang itulah aku. Aku tak marah dengan pernyataan mereka. This is me. Cerewet ada 2 sisi. Cerewet baik dan buruk. Cerewet baik ya cerewet yang berguna, ya seperti seksi keamanan yang setiap hari harus berkoar-koar agar anak-anak kelasnya disiplin, bendahara yang ribut agar anak-anaknya segera membayar uang iuran. Hehehe sepertinya sifat cerewetku menurun dari ibuku. Cerewet yang buruk seperti kebiasaan membicarakan orang lain (nggosip, jan cewek banget hehe), berkata-kata kotor dan pedas (nylekit, benci bgt sama org spt itu) dan lain-lain yang berintikan negative. Ya aku tak tahu, maksud pernyataan mereka bahwa aku cerewet itu yang baik atau buruk. Kalau baik ya puji Tuhan hehe, kalau buruk ya sebisa mungkin saya rubah.
Ibarat sebuah pohon yang berdiri kokoh, kelebihanku inilah yang membuat aku berdiri kokoh dan kuat layaknya pohon. Angin yang berhembus mengibas-ibaskan dedaunanku bagaikan kritikan-kritikan mereka terhadap diriku. Entah sampai kapan aku berdiri, percaya suatu saat aku akan tumbang. Entah karena angin topan, badai hujan, bahkan tsunami hehehe.
Pernah aku berpikir dan mencoba menjadi pribadi yang lain. Diam, tertutup dan tak cerewet. Namun usahaku tak bertahan lama. Hehehe tetap saja bawelku keluar dengan sendirinya. Sudah naluriah.
Aku bicarakan niatku pada beberapa teman. Ada yang beranggapan positif dan negative. Positif berarti mereka ingin aku lebih diam dan tak terlihat grusa-grusu, negative berarti mereka ingin aku yang sekarang, jangan hilangkan cerewetmu karena itu kelebihanku, itu kata mereka. Bahkan ada yang bilang, “Maria jadi pendiam, apa kata dunia?” hahahaha aku tertawa. Agaknya mustahil aku bisa jadi pendiam. Cerewet bukan main aku. Apapun aku komentari.
Cerewet itu kebiasaan? Hobby? Atau sifat jelek? Atau sifat turun temurun ya?
Ckckckck intinya…
Aku cerewet dan aku bangga!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar